MENUJU SEKOLAH BERMUTU

Oleh : Sugihartono

Abstrak : Bahwa memperbaiki kualitas pendidikan harus dimulai dari komitmen untuk berubah oleh segenap personel sekolah untuk memperbaiki kinerjanya dalam rangka memberikan kepuasan kepada pelanggan utama sekolah. Oleh karena itu penerapan MMT di sekolah menjadi suatu keharusan demi kelangsungan hidup sekolah. Untuk dapat mewujudkan pelayanan bermutu diperlukan teamwork yang solid melalui delapan prinsip MMT . Untuk itu dibutuhkan sosok pemimpin yang kuat dan handal sebagai upaya membentuk budaya mutu yang akan mampu mengantarkan oraganisasi melihat masa depan yang baik.

Kata Kunci : Mutu, jaminan mutu, Manajemen Mutu Terpadu, Kepemimpinan Pendidikan Mutu

A. Latar Belakang

Akhir-akhir ini fenomena pendidikan yang memprihatinkan dikarenakan mutu out put yang begitu rendah. Kondisi ini tergambar dari keluhan pengguna tamatan dalam ungkapan tidak siap pakai, kualitas rendah dan sebagainya. Kondisi ini terbukti dari data yang dilaporkan UNDP 2000 yang menggambarkan ada kecenderungan menurun dibanding dengan negara-negara tetangga yang mengalami hal sebaliknya. Laporan tersebut mengemukakan bahwa pada tahun 1998, Indonesia berada pada urutan 102, namun hanya dlam kurun waktu dua tahun posisinya menurun hinga urutan 109. Sedangkan dalam kurun waktu yang sama negara-negara tetangga bergerak maju seperti Singapura meningkat dari urutan 34 ke 24, Australia dari urutan 11 ke urutan 4, Filipina dari urutan 95 ke 64,Cina dari 121 ke 99, dan Vietnam dari urutan 121 ke 108.

Keadaan ini diperparah dengan kenyataan masih begitu rendahnya mutu SDM pendidik di Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan tahun 2004 sebagai berikut :

No Mata Uji Jumlah Soal Rerata Standar Deviasi Rendah Tinggi
1. Tes Umum Guru TK/SD 90 34.26 6.56 5 67
2. Tes Umum Guru Lainnya 90 40.15 7.29 6 67
3. Tes Bakat Skolastik 60 30.20 7.40 3 58
4. Guru Kelas TK 80 41.95 8.62 8 66
5. Guru Kelas SD 100 37.82 8.01 5 77
6. Penjaskes SD 40 21.88 5.56 8 36
7. PPKn 40 23.38 4.82 3 39
8. Sejarah 40 16.69 4.39 3 30
9. Bahasa Indonesia 40 20.56 5.18 2 36
10 Bahasa Inggris 40 23.37 7.13 1 39
11 Penjaskes SMP/SMA/SMK 40 13.90 5.86 2 29
12 Matematika 40 14.34 4.66 2 36
13 Fisika 40 13.24 5.86 1 38
14 Biologi 40 19.00 4.58 5 39
15 Kimia 40 22.33 4.91 8 38
16 Ekonomi 40 12.63 4.14 1 33
17 Sosiologi 40 19.09 4.93 1 30
18 Geografi 40 19.43 4.88 3 34
19 Pendidikan Seni 40 18.44 4.50 2 31
20 PLB 40 18.38 4.43 2 29

Kondisi ini ditanggapi pemerintah, dalam hal ini depdiknas dengan meningkatkan standar kelulusan Ujian Nasional tanpa memperhitungkan kesiapan pelaku pendidikan di lapangan, yang akhirnya justru menimbulkan gejala terbalik yakni dengan banyaknya perilaku menyimpang dari pelaku pendidikan dengan memanipulasi pelaksanaan Ujian Nasional, hanya karena didorong agar siswa asuhannya lulus ujian sehingga dapat menyelamatkan citra sekolah. Akan sangat bijak bila perubahan dilakukan bukan pada ujung kegiatan pendidikan, tetapi diawali dari perencanaan pendidikan yang baik dan proses yang terstandar dan terkontrol, baru kemudian diakhiri dengan evaluasi terstandar dan ini tentunya tidak dapat dilakukan dengan instan, melainkan melalui proses yang panjang.

Untuk itu upaya meningkatkan mutu pendidikan haruslah menjadi agenda pokok seluruh komponen yang terkait, terutama warga sekolah. Guna mendongkrak mutu pendidikan dalam hal ini sekolah, maka diperlukan kajian-kajian dan upaya menerapkan manajemen mutu yang telah terbiasa dilakukan oleh industri untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Untuk keperluan itu makalah ini akan mendiskusikan tentang penerapan manajemen mutu total di sekolah sebagai upaya alternatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

II. IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TOTAL DI SEKOLAH

A. Pengertian Mutu dan Jaminan Mutu

Bagi suatu institusi, mutu merupakan agenda terpenting dan meningkatkan mutu merupakan tugas paling penting. Namun demikian mutu merupakan sebuah konsep yang membingungkan dan sulit untuk diukur. Mutu menurut pandangan seseorang terkadang berbeda dengan pandangan orang lain.

Kita dapat mengetahui dan merasakan mutu ketika kita mengalaminya, tetapi kita akan tetap kesulitan dalam mendiskripsikan dan memberikan penjelasan. Satu hal yang dapat kita yakini bahwa mutu merupakan sesuatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya. Menurut IBM mutu adalah kepuasan pelanggan. (Edward Sallis, 2006:30-31). Berdasarkan ISO 9000 (Dasar-dasar dan Kosa Kata), maka diartikan sebagai :

  1. Memenuhi persyaratan yang disepakati.
  2. Memberikan keyakinan dengan bukti nyata bahwa kebijakan mutu dan sasaran mutu akan dipenuhi.
  3. Mengatur pertemuan antara individu dan antar bagian/departemen dalam organisasi.
  4. Melakukan perencanaan, mengendalikan aktivitas yang bersifat kritis dan memeriksa kebenaran bahwa rencana mutu dan proses berjalan secara efektif.
  5. Praktik manajemen mutu dilakukan secara menyeluruh pada setiap bagian organisasi.
  6. Dilakukan dengan pengukuran kinerja baik yang bersifat financial maupun non finansial.

Ada beberapa hal yang biasa dipertimbangkan oleh pelanggan ketika memilih dan membeli barang yakni

  1. Fungsi Utama ( Main Function) barang tersebut, apakah barang tersebut sesuai dengan fungsi yang diharapkan atau tidak?
  2. Fungsi tambahan (feature)/Daya Guna apakah barang tersebut dapat berfungsi lain selain fungsi utamanya,
  3. Keandalan/Ketahanan, apakah barang yang akan dibelinya itu memiliki keandalan sewaktu digunakan ataukah akan cepat rusak sehingga kehilangan fungsinya.
  4. Kesesuaian, apakah barang yang akan dibelinya itu sesuai dengan keinginannya atau tidak?
  5. Estetika, apakah barang yang akan dibelinya itu memiliki nilai seni yang tinggi sehingga dapat menambah kecantikan atau keindahan penggunanya/pemiliknya
  6. Dan bagaimana kualitas yang dirasakan oleh pelanggan.

Demikian pula ketika seseorang akan membeli jasa ia akan mempertimbangkan hal-hal berikut a) dapat dilihat dan dirasa (Tangible), b) tenggang rasa (Empathy), c) peduli (Responsiveness), d) keajekan (Reliability), e) jaminan (Assurance)

Dalam upaya untuk memberikan layanan dan produk yang bermutu diperlukan jaminan mutu. Menurut SNI -19-8402-1991 yang dimaksud jaminan mutu (Quality Assurance) adalah seluruh perencanaan dan kegiatan sistematik yang diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa barang atau jasa memenuhi persyaratan mutu. Sedangkan menurut ISO 9000 – QMS – Dasar-dasar dan Kosakata yang dimaksud jaminan mutu adalah bagian dari manajemen mutu yang diarahkan pada pemenuhan persyaratan mutu.

Dari penjelasan di atas dapat diidentifikasi prinsip-prinsip jaminan mutu sebagai berikut :

  1. Merupakan tanggung jawab seluruh personel organisasi.
  2. Melakukan tindakan yang benar pada tahapan pertama aktivitas.
  3. Berkomunikasi dan bekerja sama dalam setiap aktivitas yang dilakukan.
  4. Adanya suatu sistem yang terdokumentasi.
  5. Adanya tindakan pengendalian pada setiap tahapan aktivitas.

Dengan pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut di atas hampir dapat dipastikan bahwa produk dan layanan jasa yang dihasilkan dari suatu proses kerja suatu organisasi dalam hal ini sekolah akan mampu memberikan jaminan mutu bagi kepuasan para pelanggannya.

B. Manajemen Mutu Total (MMT) di Sekolah

Sekolah sebagai suatu unit pendidikan formal perlu dikelola dengan baik dan tepat sehingga dapat melaksanakan fungsi, misi dan kebijakan yang telah digariskan. Berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, Tilaar (1994) mengemukakan bahwa pendidikan nasional merupakan suatu proses rekayasa sosial untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara efektif dan efisien dengan mengikutsertakan seluruh komponen masyarakat. Fungsi, misi dan kebijakan pendidikan nasional diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu yang sesuai dengan tuntutan penggunanya. Untuk dapat mewujudkan harapan tersebut pengelolaan sistem pendidikan haruslah menyeluruh dan berorientasi pada mutu. Hal ini lebih dikenal dengan manajemen mutu total dan lebih populer dalam dunia industri dengan istilah Total Quality Manajemen (TQM).

Pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan karakteristik MMT di sekolah adalah penedekatan in put, proses , output dan out come

a. Input Sekolah

  1. Memiliki kebijakan mutu, manajemen sekolah beserta segenap warga sekolah menetapkan kebijakan mutu yang akan dijadikan patokan dalam pengembangan sekolah
  2. Sumber daya tersedia dan bermutu, menyediakan sumber daya yang bermutu yang dibutuhkan dalam menunjang pengembangan sekolah
  3. Memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi yang ingin diraih
  4. Fokus pada pelanggan (terutama peserta didik), kebijakan dan penyelenggaraan proses diarahkan pada upaya enciptakan kepuasan pelanggan

b. Proses

  1. Efektifitas pembelajaran, artinya semua guru harus peduli pada upaya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran secara berkelanjutan sebagai wujud komitmennya terhadap kebijakan mutu yang telah ditetapkan bersama.
  2. Kepemimpinan yang kuat dan handal, maksudnya kepemimpinan yang visioner, kreatif, inovatif dan kuat pendirian dalam meningkatkan mutu layanan kepada pelanggan akan sangat menentukan terwujudnya tujuan organisasi sekolah
  3. Pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan yang efektif
  4. Sekolah memiliki budaya mutu, maksudnya pelayanan bermutu kepada pelanggan harus menjadi milik dan budaya segenap personel sekolah
  5. Sekolah memilik teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis sebagai basis upaya mewujudkan kepuasan pelanggan
  6. Sekolah memiliki kemandirian dalam menetapkan, merencanakan dan melaksanakan keinginan-keinginannya dengan dukungan sumber daya yang mandiri pula
  7. Partisipasi warga sekolah dan masyarakat, bahwa upaya mewujudkan layanan bermutu bukan merupakan kerja mandiri menajemen sekolah, tetapi merupakan milik semua warga sekolah dan masyarakat sebagai stakeholder
  8. Sekolah memiliki manajemen yang transparan sebagai jaminan akuntabilitas terhadap warganya dan pengguna layanannya
  9. Sekolah beserta segenap personelnya memiliki kemauan untuk berubah kearah yang lebih baik

10. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus menerus

11. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan yang terus berkembang

12. Sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi terhadap warga maupun stakeholdernya

13. Sekolah memiliki sustainabilitas, untuk menjamin kehidupan sekolah di masa mendatang dan karenanya kreativitas, inovasi sangat diperlukan

14. Budaya kerja yang kondusif dan produktif

c. Output yang diharapkan

Output sekolah adalah hasil kinerja sekolah, yakni berupa prestasi dan kualitas lulusan yang tinggi sebagai gambaran dari kinerja sekolah yang efektif, produktif, efisien, inovatif, dan budaya kerja yang baik. Output dibagi ke dalam dua bagian, yaitu pertama output pencapaian non akademik yang berupa perubahan sikap dan perilaku yang baik (moralitas yang tinggi) dan kedua output pencapaian akademik berupa penguasaan iptek dan skill yang handal.

d. Outcome

Outcome sekolah adalah hasil yang menggambarkan tinggi rendahnya kualitas lulusan sekolah yang memberi dampak multiplier. Tinggi rendahnya kualitas lulusan ini diukur dengan kemampuan bersaing di pasar kerja dan/atau masyarakat. Ketika lulusan dapat langsung bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya, dan perilakunya dapat diterima oleh masyarakat dengan baik, maka dapat dikatakan kualitas outcome yang tinggi.

C. Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu Total di Sekolah

Mutu pendidikan di sekolah seringkali diukur hanya dengan mutu lulusan. Padahal untuk menghasilkan lulusan yang bermutu diperlukan proses yang bermutu pula. Sedangkan proses yang bermutu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor penunjang seperti, sumber daya manusia yang bermutu, sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan bermutu, biaya yang memadai, manajemen yang yang tepat, kepemimpinan yang kuat dan handal serta lingkungan yang mendukung.

Dalam menerapkan MMT di sekolah perlu dipahami dan diupayakan pelaksanaan delapan (8) prinsip MMT sebagai berikut :

  1. Fokus pada pelangggan

Kelangsungan hidup suatu organisasi sangat ditentukan oleh pelanggan. Oleh karena itu organisasi harus upaya-upaya yang dapat meningkatkan rasa puas pelanggan dengan :

  1. Berusaha keras memenuhi persyaratan yang ditetapkan pelanggan.
  2. Mengkomunikasikan keinginan dan harapan pelanggan kepada seluruh personel organisasi.
  3. Melakukan pemantauan dan pengukuran untuk mengetahui kepuasan pelanggan.
  1. Kepemimpinan
    1. Memiliki visi yang jelas untuk masa depan organisasi dan memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.
    2. Keberhasilan implementasi ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, yang diukur dari kemampuan mempengaruhi dan memotivasi personel untuk mau mengikuti SMM yang telah dibangun.
    3. Memberdayakan personel untuk mewujudkan visi secara bersama-sama.
    4. Menciptakan dan memelihara lingkungan internal yang membuat semua personel mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang.
    5. Perbaikan terus menerus
      1. Proses perbaikan dilakukan secara terus menerus dengan cara melakukan deteksi dini terhadap semua proses untuk mencegah terjadinya penyimpangan.
      2. Melakukan koreksi bila terjadi penyimpangan pada semua proses yang dijalankan.
      3. Menggunakan pendekatan PDCA.

Plan : Menetapkan tujuan, proses dan sumber daya ang diperlukan untuk memperoleh hasil sesuai persyaratan pelanggan dan kebijakan organisasi

Do : Melakukan proses

Check : Memantau dan mengukur proses serta produk terhadap tujuan, syarat produk dan kebijakan organisasi

Action : melakukan tindakan perbaikan untuk memperbaiki kinerja proses dan SMM

  1. Keterlibatan Personel
    1. Semua personel organisasi harus memiliki kontribusi dan tanggungjawab terhadap mutu produk dan kepuasan pelanggan
    2. Keterlibatan personel disemua tingkatan sangat penting bagi jalannya SMM
    3. Menjadikan personel memiliki kompetensi dan pemahaman yang sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
    4. Pendekatan Proses
      1. Semua proses mempengaruhi mutu secara langsung.
      2. Pengendalian proses sama dengan pengendalian mutu.
      3. Pengendalian mutu secara efisien dilakukan dengan cara mengendalikan semua sumber daya yang terlibat dalam proses.
      4. Pendekatan Sistem.
        1. Pendekatan sistem merupakan kumpulan dari pendekatan proses.
        2. Semua aktivitas atau proses yang menggunakan sumber daya dikendalikan melalui suatu mekanisme yang sistematis.
        3. Pendekatan dilakukan dengan cara mengidentifikasi, memahami dan mengelola proses-proses yang saling terkait secara efektif dan efisien.
      5. Pengambilan Keputusan berdasarkan Fakta
        1. Semua keputusan, kegiatan dan fungsi dalam manajemen mutu dilakukan atas dasar fakta dan data.
        2. Fakta dan data yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan
      6. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok
        1. Pemasok adalah mitra.
        2. Membangun kerjasama saling menguntungkan dengan melakukan pembinaan secara terus menerus, agar pemasok memahami perannya sebagai bagian integral dari sebuah mekanisme bisnis yang saling menguntungkan (disarikan dari ISO 9001-2000)

D. Kepemimpinan Pendidikan Mutu

Menurut Edward Sallis Kepemimpinan adalah unsur penting dalam TQM. Pemimpin harus memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik.(Sallis, 2006 : 169)

Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Peters dan Austin (dalam Sallis, 2006: 169) dinyatakan bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi adalah kepemimpinan. Menurutnya gaya kepemimpinan MBWA atau management by walking about (manajemen dengan melaksanakan) dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu. Keinginan untuk unggul tidak dapat dilakukan dari balik meja, melainkan pada pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi. Gaya kepemimpinan ini mementingkan pada komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lain, serta berbaur dengan para staf dan pelanggan.

Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan memerlukan perspektif-persepktif berikut ini :

  1. Visi dan simbol-simbol. Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, para pelajar dan komunitas yang lebih luas.
  2. MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah institusi
  3. Untuk para pelajar, ini menggambarkan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya
  4. Otonomi, eksperimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Pemimpin pendidikan harus melakukan inovsi di antara para stafnya dan bersiap-siap mengantisiasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut.
  5. Menciptakan rasa kekeluargaan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan di antara para pelajar, orangtua, guru dan staf institusi.
  6. Ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas dan antusiasme. Sifat-sifat ini merupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.

Keberhasilan pelaksanaan MMT di sekolah sangat ditunjang oleh adanya budaya mutu. Peran pemimpin dalam mengembangkan budaya mutu di sekolah mengharuskan ia menjalankan fungsi utamanya sebagai berikut :

  1. memiliki visi mutu terpadu bagi institusi
  2. memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu
  3. mengkomunikasikan pesan mutu
  4. memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi
  5. mengarahkan perkembangan karyawan
  6. berhati-hati dengan tidak menyelahkan orang lain saat persoalan muncul tanpa bukti-bukti yang nyata. Kebanyakan masalah muncul akibat kebijakan institusi bukan kesalahan staf
  7. memimpin inovasi dalam institusi
  8. mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat
  9. memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan, baik yang bersifat organisasional maupun kultural
  10. membangun tim yang efektif
  11. mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. (Sallis, 2006: 173)

Untuk dapat menjalankan MMT di sekolah seorang kepala sekolah di samping harus memiliki pandangan dan peran sebagaiman dikemukakan di atas, menurut Sudarwan Danim ia juga harus memiliki kompetensi-kompetensi berikut :

  1. Kompetensi dalam merumuskan visi, misi, tujuan, program dan strategi sekolah
  2. Kompetensi dalam pengelolaan program sekolah secara menyeluruh
  3. Kompetensi dalam pengelolaan program pengajaran
  4. Kompetensi dalam pengelolaan murid
  5. Kompetensi dalam pengelolaan personel sekolah
  6. Kompetensi dalam pengelolaan keuangan sekolah
  7. Kompetrensi dalam pengelolaan sarana dan prasarana
  8. Kompetensi dalam pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. (Danim, 2006 : 99)

Untuk mencapai kompetensi tersebut, kepala sekolah sebagai ujung tombak pemegang manajemen harus memiliki serangkaian generic skills management yang meliputi perencanaan, komunikasi, pengorganisasian, dan pengontrolan (Turney dalam Danim, 2006 : 100).

Aspek perencanaan mencakup peran :

  1. visioning and formulating mission
  2. making and goal setting
  3. designing programmes
  4. determining and alocating reasource dan
  5. modifying policy plan

Peranan di bidang komunikasi meliputi :

  1. comunication system
  2. consulting with individuals and group
  3. developing skills dan
  4. overcoming problems

Sebagai motivator meliputi tugas :

  1. encouraging involment
  2. enhancing teaching condition
  3. supporting individual and group
  4. fostering climate and morale

Bidang pengorganisasian meliputi tugas :

  1. developing and modifying organizational structures
  2. orienting participation and establishing high espectation
  3. assigning ang delegating authority
  4. coordinating contributions of individuals and groups

Tugas dalam bidang pengontrolan meliputi :

  1. establishing standard
  2. enfluencing performance
  3. monitoring and evaluating
  4. initiating corrective action

Menurut Arcaro (dalam Cep Unang, 2004: 23) suatu sekolah dapat dikatakan telah menerapkan manajemen mutu total apabila sekolah tersebut didukung oleh lima pilar, yaitu (1) berfokus pada pengguna, (2) keterlibatan secara total semua unsur yang ada di sekolah atau semua anggota, (3) melakukan pengukuran, (4) komitmen pada peerubahan, serta (5) penyempurnaan secara terus menerus.

Apabila kelima pilar tersebut telah m,embudaya dalam tradisi sekolah maka dapat dikatakan bahwa sekolah telah melaksanakan manajemen mutu total.

III. PENUTUP

Keberhasilan dalam mengimplementasikan manajemen mutu total di sekolah diperlukan seorang kepala sekolah yang mampu memberdayakan seluruh komponen yang ada di sekolah sehingga terbentuklah budaya mutu dikalangan personil sekolah.

Profil sekolah yang berbasis MMT dicirikan dengan hal-hal berikut, yaitu berfokus pada pelanggan, keterlibatan seluruh komponen yang ada di sekolah, adanya aktivitas pengukuran, memiliki komitmen terhadap perubahan dan usaha untuk memperbaiki secara terus menerus.

Dengan penerapan manajemen mutu total di sekolah diharapkan pengguna lulusan sekolah dapat terpuaskan, dengan demikian secara kualitatif mutu pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah telah meningkat. Untuk itu orientasi mutu dan budaya mutu haruslah ditumbuh kan pada segenap komponen yang ada di sekolah; kalau ingin kualitas pendidikan meningkat, hal ini akan membutuhkan proses yang lama, karenanya tidak akan dapat dilakukan secara instan dengan menetapkan passing grade UN yang tinggi, alih-alih malah dapat menimbulkan prustasi yang berakibat pada perilaku menyimpang.

DAFTAR PUSTAKA

Cep Unang Wardaya (Bulletin PPPG Tertulis), Implementasi Manajemen Mutu Total di Sekolah, vol. 1 No. 2 Nopember 2004

Edward Sallis, (Terj.) Total Quality Management ini Education, 2006, Yogyakarta, IRCiSoD

PPPG Pertanian Cianjur, Materi Sosialisasi ISO 9001-2000

Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah, 2006, Jakarta, Bumi Aksara

PENDIDIKAN SISTEM GANDA

disusun oleh Sugihartono

A. Pendahuluan

Upaya pembaharuan pendidikan harus dilakukan secara terus menerus sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan ekonomi, dan perubahan dalam masyarakat. Khususnya pada pendidikan kejuruan, telah banyak upaya pembaharuan penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dilakukan selama ini. Namun, berdasarkan hasil-hasil kajian, pengamatan, dan penelitian, upaya pembaharuan tersebut banyak menghadapi kendala-kendala di lapangan, yang perlu dicari alternatif pemecahannya.

Pembaharuan pola penyelenggaraan pendidikan di SMK dimulai sejak dilaksanakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) tahun 1994, dan dilengkapi dengan sejumlah perangkat pelaksanaannya. Dalam perkembangan selanjutnnya, pelaksanaan PSG lebih dimantapkan lagi dengan menggunakan acuan yang lebih mendasar yaitu yang tertulis dalam buku “Keterampilan Menjelang 2020 untuk Era Global” yang disusun oleh Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997). Kemudian, penyelenggaraan PSG dibakukan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaraan Sistem Ganda pada Sekolah Menengah Kejuruan tanggal 31 Desember 1997, yang memuat komponen-komponen yang diperlukan dalam penyelenggaraan PSG. Inti dari “gerakan” ini adalah upaya untuk mendekatkan pendidikan kejuruan ke dunia usaha/industri.

Dari aspek kurikulum, terjadi perubahan karakteristik dari Kurikulum SMK Tahun 1994 menjadi Kurikulum SMK Edisi 1999. Perbedaan kedua kurikulum tersebut terletak pada: pendekatan, struktur program, periode ajaran, dan evaluasi. Pertama, Kurikulum SMK Tahun 1994 menggunakan pendekatan competency based, sedangkan Kurikulum Edisi 1999 menggunakan pendekatan kombinasi competency based dan broad based. Kedua, struktrur program Kurikulum SMK Tahun 1994 terdiri dari program umum dan program kejuruan, sementara itu Kurikulum SMK Edisi 1999 terdiri dari program normatif, program adaptif, dan program produktif. Ketiga, pembelajaran menurut Kurikulum SMK 1994 disajikan dalam periode catur wulan, sedangkan Kurikulum 1999 disajikan dalam sistem semester. Keempat, evaluasi Kurikulum 1994 dilaksanakan secara parsial, sebaliknya pelaksanaan Kurikulum 1999 akan dievaluasi secara menyeluruh.

Dalam pelaksanaan PSG, kendala dirasakan oleh kedua belah pihak, yaitu sekolah dan industri (Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 1996). Disebutkan bahwa kendala yang dihadapi oleh sekolah antara lain: (1) keragaman geografis, (2) keragaman kesiapan dan tingkat kemajuan SMK, dan (3) keragaman program SMK yang belum seimbang dengan keragaman industri di sekitarnya. Selanjutnya, kendala yang dirasakan oleh industri antara lain: (1) belum dimiliki struktur jabatan dan keahlian yang mantap, terutama pada industri kecil, dan menengah, (2) belum ada perencanaan alokasi biaya untuk pengembangan pendidikan, (3) belum dimilikinya persepsi tentang keuntungan PSG bagi industri, dan (4) kurangnya kesadaran tentang peningkatan keefektifan, efisiensi, dan kualitas dalam pelaksanaan pelatihan di industri. Sementara itu, menurut hasil penelitian Sonhadji, dkk. (1997), pelaksanaan PSG menghadapi kendala-kendala, aptara lain sebagai berikut: (1) pendelegasian tugas dan tanggung jawab di antara perangkat organisasi Pokja PSG belum merata, dan ada kecenderungan dominan pada Ketua Pokja, (2) guru pembimbing belum berfungsi secara optimal di industri, dan diantara mereka ada yang tidak relevan dengan bidangnya, (3) kesulitan menjalin kerjasama dengan institusi pasangan yang tergolong menengah dan besar, (4) rendahnya manajemen pengelolaan pelatihan siswa oleh industri, terutama pada industri kecil, (5) instruktur di industri banyak yang tidak memenuhi persyaratan serta belum berperan secara efektif, (6) masih banyak siswa yang mencari sendiri tempat pelatihan industri, (7) kurangnya waktu yang disediakan Majelis Sekolah untuk berkoordinasi, (8) lamanya pengurusan perijinan dan permohonan pelatihan, (9) kurangnya disiplin dan rendahnya kepedulian siswa terhadap keselematan kerja, dan (10) tidak berimbangnya antara jumlah SMK dan jumlah dunia usaha/industri. Dari temuan-temuan di atas dapat disebutkan bahwa pelaksanaan PSG selama ini mengalami kendala-kendala struktural, geografis, potensi teknologis, psikologis, akademis, manajerial, dan kultural.

B. Konsep PSG

Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu relevansi dengan kebutuhan pembangunan umumnya dan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya. Beberapa prinsip yang akan dipakai sebagai strategi dalam kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).

PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Pada hakekatnya PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan di tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam menyikapi perubahan dinamika tersebut.

Bila pada pendidikan konvensional, program pendidikan direncanakan, dilaksanakan dan dievalusi secara sepihak dan lebih bertumpu kepada kepemimpinan kepala sekolah dan guru, maka pada PSG program pendidikan direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara sekolah kejuruan dengan institusi pasangannya, sehingga fungsi operasional dilapangan dilaksanakan bersama antara kepala sekolah, guru, instruktur dan manager terkait, untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi guru serta instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif.

Menurut Dikmenjur (1994 : 19), kualitas guru tetap memegang peranan kunci, oleh sebab itu program Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) akan dilaksanakan dengan kegiatan pokok peningkatan mutu dan relevansi, diantaranya melalui peningkatan mutu, karena itu program penataran guru akan tetap penting, terutama dalam meningkatkan kemampuan professional guru yang akan dilaksanakan melalui penataran yang memakai pendekatan “ production. Training “ Serta peningkatan penataran dalam bentuk “ on the job training” di industri.

Hal tersebut menunjukkan, bahwa peranan dan fungsi guru dalam PSG merupakan salah satu parameter terhadap keberhasilan pelaksanaanya sebagaimana dinyatakan pranarka (1991), bahwa “

peran gurulah pelaksana utama di medan pendidikan aktual “. Menurut T. Raka Joni (1991) tugas guru adalah teramat penting, secara makro tugas itu berhubungan dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang pada akhirnya akan menentukan kelestarian dan kejayaan kehidupan bangsa karenanya Nana Sujana (1989 : 12) menyatakan, bahwa kehadiran guru dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) tetap memegang peranan penting dan belum dapat digantikan oleh alat secanggih apapun. Gambaran oleh pakar pendidikan tersebut dapat dipahami, sebab masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, system nilai perasaan, motivasi, kebiasaan, kesiapan dan lainnya yang diharapkan merupakan hasil proses pengajaran.

Fenomena tersebut menunjukkan, bahwa dalam suatu proses pendidikan, keprofesionalan sangat iperlukan, lebih tegas Pranarka (1991) menyatakan, bahwa “para guru sebagai perwira- perwira tempur didalam medan pendidikan yang aktual”.

Ini mengisyaratkan bahwa keprofesionalan guru betul-betul diharapkan sebagai pelaksanaan pendidikan dalam proses belajar mengajar sehingga proses dari pendidikan tersebut peserta didik memiliki kesiapan dan kemampuan dalam dunia yang nyata dan ini sejalan dengan tujuan PSG yaitu menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional, yakni tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja” (Aburizal Bakrie,1996:8).

Dalam upaya merealisasikan kebijakan link and match melalui pelaksanaan PSG, selain diperlukan guru SMK yang profesional serta instruktur yang mewakili dunia usaha / industri yang profesional pula. Instruktur dalam PSG memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam menentukan keberhasilan peserta PSG. Menurut slamet PH. (1997) tugas instruktur dalam PSG antara lain adalah

memberikan bimbingan, pengarahan, melatih, memotivasi dan menilai peserta PSG, oleh karenanya instruktur dituntut mampu memahami aspek-aspek pendidikan dan pengajaran.

Dari uraian diatas, diketahui bahwa salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan pelaksanaan PSG adalah guru dan instruktur, oleh sebab itu baik guru maupun instruktur dituntut memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing dalam PSG, hal ini senada dengan pernyataan T. Raka Joni (1991) bahwa diluar lapisan tenaga propesional untuk bidang-bidang ajaran yang memiliki kandungan keterampilan tinggi, penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien mempersyaratkan peran serta instruktur.”

Namun demikian kenyataan yang ada menunjukkan, bahwa guru dan instruktur belum sepenuhnya memiliki kemampuan yang dipersyaratkan dalam melaksanakan PSG, sebagaimana dinyatakan Dikmenjur (1997).

Bahwa permasalahan yang dihadapi adalah guru pada saat ini belum memiliki wawasan industri dan tenaga instruktur belum memiliki wawasan kependidikan. Rusdiono (1999) menyebutkan bahwa alasan utama melencengkan pelaksanaan PSG. Lebih jauh Rusdiono menyebutkan bahwa alasan utama melencengkan pelaksanaan PSG di Indonesia disebabkan oleh belum dipahaminya konsep/pengertian PSG oleh pihak sekolah.

Bertolak dari sejumlah permasalahan, tersebut apabila dicermati ada satu permasalahan yang perlu dikaji lebih mendalam sebab masalah itu dihadapi baik oleh guru maupun instruktur, yakni tentang kemampuan membimbing siswa PSG.

Kemampuan (kompetensi) guru dan instruktur dalam membimbing siswa PSG adalah salah satu tugas dan tanggung jawab mendidik yang paling esensi terutama dalam pelaksanaan PSG. Kemampuan guru dan instruktur dalam membimbing siswa PSG ini banyak dipengaruhi berbagai aspek, seperti pengetahuan, pengalaman, minat, sikap, persepsi, wawasan latar belakang pendidikan dan faktor lingkungan lainnya.

C. Peran Guru dan Instruktur dalam PSG

Menurut Dikmenjur (1997) guru dipandang sebagai ujung tombak yang sangat menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG), yang secara khusus guru dalam PSG didefinisikan sebagai berikut : “Guru PSG adalah individu yang memiliki kemampuan kompetensi, profesi keguruan atau pendidik secara dominan tetapi juga harus memiliki kompetensi teknis keahlian tertentu dan memiliki jiwa enterpreneurship (Dikmenjur, 1997).

Dalam pelaksanaan PSG guru dipersyaratkan harus memiliki sejumlah kompetensi atau kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melaksanakan keprofesiannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru PSG, oleh sebab itu Sahertian (1994 : 54) menyatakan bahwa “yang dimaksud profil kompetensi ialah penampilan guru dalam melakukan tugasnya yang memiliki syarat sesuai dengan kriteria kemampuan yang dipersyaratkan”.

Sehubungan dengan kemampuan guru dalam PSG, Dikmenjur (1997) menjelaskan kompetensi profesi guru dalam PSG adalah sebagai berikut : (a) Mampu mengorganisasikan program pembelajaran di SMK yang kondusif, (b) Mampu memberikan inovasi dan motivasi kerja kepada siswa, (c) Mampu menguasai keahlian baik secara teknis maupun secara teoritis, (d) Mampu menguasai emosi sehingga menjadi suri teladan oleh siswa dan kawan seprofesi, (e) Mampu berkomunikasi dan berjiwa enterpreneurship.

Berdasarkan dari sejumlah unsur kompetensi guru dalam PSG seperti tersebut diatas, maka salah satu kemampuan yang diperlukan dari guru dalam melaksanakan program PSG diantaranya adalah “ kemampuan membimbing “ siswa PSG, referensi-referensi yang menekankan pentingnya guru memiliki kemampuan membimbing adalah seperti yang dinyatakan oleh Nana Sujana (1989), bahwa dari sepuluh kompetensi guru menurut PSG Depdiknas guru harus mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa guru harus memiliki kemampuan membimbing dalam kegiatan proses belajar mengajar sehingga pengajaran berlangsung dengan efektif, hal yang sama seperti yang dinyatakan oleh Nolker (1988), Sukamto (1988), Sahertian (1994), Soekartawi dan Sardiman (1997) serta Soedijarto (1997), bahwa salah satu profil seorang guru adalah mempunyai keahlian dalam memberikan bimbingan kepada siswa didiknya.

Instruktur yang diidentikan sebagai pengajar praktik (Nolker, 1998) dan menurut T. Raka Joni (1991) instruktur ialah tenaga pengajar bantu yang bertugas melatih secara intensif keterampilan.

Dalam PSG didefinisikan sebagai berikut : “ instruktur PSG adalah individu yang telah menguasai keahlian / kompetensi tertentu dan telah memiliki kemampuan enterpreneurship, secara dominan tetapi juga dituntut untuk memiliki kompetensi kejuruan (Dikmenjur, 1997)”.

Menurut Nolker (1998 : 173) “ Instruktur memberikan bimbingan ahli bagi peserta didik dalam melakukan pekerjaan latihan serta memberikan petunjuk-petunjuk praktis, sesuai dengan perkembangan teknologi mutakhir. “ selanjutnya Nolker (1988) menyebutkan, bahwa instruktur juga menyiapkan pertemuan pengajaran dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip didaktik dan ia juga memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam penyelenggaraan ujian.

Bertolak dari kemampuan guru dan instruktur dalam membimbing siswa PSG, menurut Yusuf Gunawan (1992), dan Sukardi (1995), bahwa membimbing adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Winkel (1981), lebih rinci menguraikan bahwa “bimbingan (guidance) mempunyai hubungan dengan guiding : Showing a Way (menunjukkan jalan), conducting (menuntun), giving instruction (memberikan petunjuk), regulating (mengatur) governing (mengarahkan), giving advice (memberikan nasehat)”.

Pada pelaksanaan PSG, guru dan instruktur dalam memberikan bimbingan kepada siswa yang melaksanakan praktik industri, tentunya kegiatan membimbing itu sendiri lebih difokuskan kepada kegiatan memimpin, mengarahkan, menuntun dan memberikan petunjuk atau penjelasan yang secara khusus berhubungan dengan kegiatan PSG, sehingga dengan demikian seluruh potensi yang dimiliki siswa PSG dapat dioptimalkan sedemikian rupa mengarah kepada pencapaian PSG.

Menurut Sukamto (1988) guru bertugas membimbing anak didik mengembangkan rasa tanggung jawab dan disiplin, dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan minat mereka pada tingkat – tingkat usia tertentu, menurut piters yang dikutif Nana Sudjana (1989) tugas dan tanggung jawab guru sebagai pembimbing memberikan tekanan pada tugas (aspek mendidik) dan memberi bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah – masalah yang dihadapinya.

Senada dengan itu Imam Syafe’ie (1992) menyatakan, bahwa guru sebagai pembimbing membantu siswa agar mampu mengarahkan dan menyesuaikan diri pada lingkungan kehidupannya, ini berarti guru hendaknya mampu membantu siswa untuk mengubah dan memecahkan masalah melalui proses hubungan interpersonal.

Selanjutnya Soedijarto (1997) menyebutkan, bahwa bagi para pendidik yang professional harus mampu menggunaka segala pengetahuan baik teori, konsep, definisi, disiplin ilmu, penilaian dan teknologi pendidikan untuk memecahkan masalah kependidikan, terutama dalam tanggung jawabnya membimbing peserta didik mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pernyataan di atas menjelaskan salah satu tugas guru dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) yang mengandung keterampilan, guru dalam melaksanakan tugasnya tersebut dapat dibantu oleh instruktur seperti yang dinyatakan oleh T Raka Joni (1991), bahwa “ diluar lapisan tenaga professional, untuk bidang-bidang ajaran yang memiliki kandungan yang tinggi, penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien akan mempersyaratkan peran serta instruktur yang bertugas melatih secara intensif keterampilan”.

Guru dan instruktur dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing siswa PSG, selain memiliki kemampuan membimbing, secara umum dalam pelaksanaan program praktik dasar maupun praktik keahlian produktif dituntut memenuhi persyaratan tertentu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Dikmenjur (1997), yaitu : memiliki kepedulian terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan pada SMK, memiliki pengetahuan dan keterampilan memiliki sikap dan etos kerja serta dedikasi yang tinggi terhadap bidang pekerjaan/profesinya, memiliki wawasan dunia kerja, peka terhadap perkembangan IPTEKS, menghargai profesinya maupun profesi lainnya dan interpersonal communication.

Dengan memiliki sejumlah persyaratan seperti diatas, maka baik guru kejuruan maupun instruktur diharapkan mampu melaksanakan tugas pembimbingan terhadap siswa PSG dengan baik, terarah dan efektif. Dikmenjur (1997) menjelaskan tentang ruang lingkup tugas pembimbing PSG, baik pada waktu siswa melakukan praktik dasar kejuruan maupun melaksanakan praktik keahlian pada lini produksi didunia usaha / industri, yaitu : (1) Menyeleksi calon peserta calon PSG, (2) Mengkondisikan siswa peserta PSG, (2) Melatih dan membimbing secara sistematis pada program praktik dasar dan praktik keahlian produktif pada lini produksi, (3) Menilai secara kontinyu terhadap sikap dan kinerja praktik, (4) Menguji pada waktu ujian kompetensi, (5) Memberikan motivasi kerja dan (6) Memberikan peringatan atau hukuman.

Pemahaman (comprehension) dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran, memahami maksudnya dan menangkap maknanya (Sardiman, 1997). Pemahaman memiliki arti sangat mendasar yang meletakkan bagian-bagian belajar pada proporsinya, oleh sebab itu pemahaman tidak sekedar tahu, tetapi juga menghendaki agar subjek belajar dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipahaminya. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman merupakan unsur psikologis yang penting dalam proses belajar-mengajar.

D. Pelaksanaan Prakerin

1. Pengertian Prakerin

Praktik Kerja Industri yang disingkat dengan “prakerin” merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta didik di Dunia Kerja, sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistim pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistim Ganda (PSG). Program prakerin disusun bersama antara sekolah dan dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik dan sebagai kontribusi dunia kerja terhadap pengembangan program pendidikan SMK.

Dengan prakerin peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-aspek kompetensi yang dituntut kurikulum, dan di samping itu mengenal lebih dini dunia kerja yang menjadi dunianya kelak setelah menamatkan pendidikannya.

2. Prinsip-prinsip Pendidikan Kejuruan (Charles Prosser)

Keberhasilan pendidikan kejuruan / SMK diukur dari tingkat keterserapan tamatan di dunia kerja. Untuk mencapai hal tersebut berbagai usaha dilakukan oleh SMK melalui peningkatan mutu pembelajaran. Dalam desain pembelajaran perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:

  1. Efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika lingkungan dimana nanti bekerja
  2. Efektif jika tugas-tugas diklat dilakukan dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu.
  3. Efektif jika melatih kebiasaan berpikir dan bekerja seperti di DuDi
  4. Efektif jika setiap individu memodali minatnya, pengetahuan dan ketrampilannya pada tingkat yang paling tinggi
  5. Efektif untuk setiap profesi, jabatan, pekerjaan untuk setipa orang yang menginginkan dan memerlukan dan dapat untung
  6. Efektif jika diklat membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar diulang sehingga sesuai/cocok dengan pekerjaan
  7. Efektif jika GURUnya mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapan kompetensi pada operasi dan proses kerja yang telah dilakukan.
  8. Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorang agar dia dapat bekerja pada jabatan tersebut
  9. Pendidikan Kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar / tanda-tanda pasar
  10. Pembiasaan efektif pada siswa tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan nyata sarat nilai
  11. Isi diklat merupakan okupasi pengalaman para ahli
  12. Setiap okupasi mempunyai ciri-ciri isi (Body of content) yang berbeda-beda satu dengan lainnya
  13. Sebagai layanan sosial efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang yang memerlukan
  14. Pendidikan Kejuruan efisien jika metoda pengajarannya mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik
  15. Pembiasaan efektif pada siswa tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan nyata sarat nilai

3. Tujuan Prakerin

a. Pemenuhan Kompetensi sesuai tuntutan Kurikulum

Penguasaan kompetensi dengan pembelajaran di sekolah sangat ditentukan oleh fasilitas pembelajaran yang tersedia. Jika ketersediaan fasilitas terbatas, sekolah perlu merancang pembelajaran kompetensi di luar sekolah (Dunia Kerja mitra). Keterlaksanaan pembelajaran kompetensi tersebut bukan diserahkan sepenuhnya ke Dunia Kerja, tetapi sekolah perlu memberi arahan tentang apa yang seharusnya dibelajarkan kepada peserta didik.

b. Implementasi Kompetensi ke dalam dunia kerja

Kemampuan-kemampuan yang sudah dimiliki peserta didik, melalui latihan dan praktik di sekolah perlu diimplementasikan secara nyata sehingga tumbuh kesadaran bahwa apa yang sudah dimilikinya berguna bagi dirinya dan orang lain. Dengan begitu peserta didik akan lebih percaya diri karena orang lain dapat memahami apa yang dipahaminya dan pengetahuannya diterima oleh masyarakat.

c. Penumbuhan etos kerja/Pengalaman kerja.

SMK sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan dapat menghantarkan tamatannya ke dunia kerja perlu memperkenalkan lebih dini lingkungan sosial yang berlaku di Dunia Kerja. Pengalaman berinteraksi dengan lingkungan Dunia Kerja dan terlibat langsung di dalamnya, diharapkan dapat membangun sikap kerja dan kepribadian yang utuh sebagai pekerja.

4. Desain Program/ Pelaksanaan Prakerin

Perancangan program prakerin tidak terlepas dari implementasi silabus ke dalam pembelajaran, yang membutuhkan metode, strategi dan evaluasi pelaksanaan yang sesuai.

Rancangan prakerin sebagai bagian pembelajaran perlu memperhatikan kesiapan Dunia Kerja mitra dalam melaksanakan pembelajaran kompetensi tersebut. Hal ini diperlukan agar dalam pelaksanaannya, penempatan peserta didik untuk prakerin tepat sasaran sesuai dengan kompetensi yang akan dipelajari. Diagram di bawah menunjukkan alur kerja perancangan program prakerin.

Diagram Alir Prakerin

Dari diagram di atas menunjukkan bahwa dalam perancangan program prakerin perlu dilakukan analisis terhadap kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai peserta didik berdasarkan tuntutan standar kompetensi/ kompetensi dasar yang tertera dalam silabus. Analisis dimaksudkan untuk mendapatkan informasi kompetensi apa saja yang dapat dipelajari di sekolah dengan fasilitas yang tersedia dan kompetensi apa saja yang dipelajari di dunia kerja.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebagai berikut:

a. Analisis Pencapaian Kompetensi Hasil Pembelajaran di Sekolah

Keseluruhan kompetensi dalam Kurikulum menjadi target utama yang harus dikuasai oleh peserta didik selama waktu pembelajaran di SMK. Keterbatasan fasilitas pembelajaran praktik di sekolah, perlu disiasati dengan pemanfaatan fasilitas Dunia Kerja mitra untuk pemenuhannya.

Untuk kepentingan tersebut perlu dilakukan analisis terhadap keseluruhan kompetensi yang didasarkan kepada fasilitas pembelajaran yang dibutuhkan. Dengan langkah ini akan dapat diketahui apakah keseluruhan fasilitas sudah tersedia di sekolah atau tidak.Contoh format analisis dapat dilihat seperti dibawah ini.

Program Keahlian :

Kelas / Smester :

SK KD Sumber daya yang dibutuhkan Pelaksanaan di sekolah Pelaksanaan di Dunia Kerja
A A1
A2
A3
A4
dst
B
dst

Berdasarkan inventarisasi kemampuan-kemampuan yang dapat dibelajarkan di sekolah, maka akan terlihat dengan jelas kemampuan apa saja yang harus dibelajarkan kepada peserta didik melalui prakerin.

Data-data tersebut digunakan sebagai bahan untuk menyusun jurnal kerja yang akan dibawa peserta didik pada saat prakerin.

b. Pemetaan Dunia Kerja

Pemetaan Dunia Kerja sangat penting dilakukan sebelum program prakerin dirancang. Hal ini dimaksudkan agar Dunia Kerja yang dijadikan mitra benar-benar sesuai dengan program keahlian yang sedang ditekuni oleh peserta didik sehingga tujuan prakerin tercapai dengan baik.

Pemetaan Dunia Kerja dilakukan dengan cara melakukan inventarisasi Dunia Kerja melalui media masa/brosur yang dilanjutkan dengan kunjungan langsung/survei, atau dengan cara lain yang dianggap tepat.

Dunia kerja seperti apakah yang dapat dijadikan mitra oleh sekolah ?

Secara umum dunia kerja yang dapat dilibatkan dalam program prakerin adalah dunia kerja dengan skala regional, nasional atau multinasional, bahkan perusahaan kecil sekalipun. Karena dalam kenyataannya justru perusahaan berskala kecil lebih memberikan perhatian pada pembelajaran. Dengan kata lain perusahaan berskala kecil cenderung lebih terbuka dibandingkan dengan perusahaan besar.

Untuk menginventarisasi Dunia Kerja dapat menggunakan format seperti contoh berikut:

Nama Dunia Kerja :

Alamat :

Bidang Pekerjaan :

JENIS PRODUK KEMAMPUAN KERJA YANG DIBUTUHKAN FASILITAS YANG DIMILIKI DAYA TAMPUNG
A
B
dst

c. Menyusun Program Prakerin

Dalam penyusunan program prakerin sebaiknya memperhatikan karakteristik:

1) Program menunjukkan asumsi bahwa situasi belajar adalah di tempat kerja

2) Program dapat menerima konteks berbagai perbedaan, mencakup perbedaan individu sebagai peserta didik yang berbeda inspirasi, termasuk di dalamnya perbedaan kultur dan perbedaan pengetahuan.

3) Program harus fleksibel tidak hanya pada satu situasi, akan tetapi mempertimbangkan perbedaan pada butir 2. Karena setiap hari pekerjaan mengalami perubahan dan peserta didik dapat menyesuaikan perubahan yang terjadi.

4) Program akan selalu memiliki perbedaan dengan berbagai tingkatan atau level, seperti perbedaan tuntutan dunia kerja dengan tuntutan sekolah.

Berdasarkan karakteristik program di atas dan hasil analisis, kesenjangan antara kemampuan-kemampuan yang didapatkan peserta didik di sekolah dan Dunia Kerja, dimasukkan ke dalam sebuah format untuk mengidentifikasi kemampuan-kemampuan tersebut sesuai kompetensi kerja yang dimiliki oleh masing-masing Dunia Kerja mitra. Untuk mempermudah identifikasi dapat dibuat format seperti contoh di bawah ini.

Format penetapan pemenuhan kompetensi sesuai dengan Dunia Kerja mitra.

SK KD Dunia Kerja yang sesuai Ket
A B C D E
A
B
C
dst

Dari peta kompetensi Dunia Kerja yang dimiliki oleh sekolah, dan kemampuan yang harus dipelajari di Dunia Kerja, selanjutnya disusun jurnal prakerin yang menjadi pegangan peserta didik pada saat melaksanakan prakerin dimaksud. Contoh jurnal prakerin dapat dilihat seperti di bawah ini.

JURNAL PRAKERIN

SMK NEGERI/SWASTA SELAYANG PANDANG

Nama Peserta Didik :

Smester :

Nama Dunia Kerja : A

Alamat :………

Waktu Pelaksanaan :……….

SK KD Bentuk Pekerjaan Tanggal Pelaksanaan Tanda Tangan Pembimbing
A
B
dst

Keterangan:

  • Bentuk pekerjaan/barang yang akan dikerjakan di dunia kerja dirancang sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan dunia kerja mitra.
  • Pekerjaan/barang merupakan gabungan dari beberapa kemampuan dari satu atau lebih standar kompetensi.

d. Implementasi

1) Waktu Pelaksanaan

Prakerin dapat dilaksanakan sesuai dengan pembelajaran kompetensi yang direncanakan akan diberikan di dunia kerja. Di samping itu perlu juga mengadakan komunikasi dengan dunia kerja,dengan tujuan untuk memastikan kesiapan dunia kerja dan pembimbing, menerima peserta prakerin sesuai kompetensi yang diharapkan.

2) Pembekalan Peserta Didik

Peserta didik yang akan melaksanakan prakerin harus diberikan pembekalan terlebih dahulu tentang program yang akan dilaksanakan sehingga betul-betul memahami apa yang harus mereka lakukan di Dunia Kerja. Hal-hal yang menjadi fokus pembekalan antara lain:

1) Pelaksanaan program prakerin yang dituangkan di dalam jurnal yang mereka bawa.

2) Tata tertib/aturan yang berlaku di Dunia Kerja dimana mereka berada.

3) Menjaga/memelihara nama baik sekolah.

3) Pembimbing

Pembimbing terdiri dari pembimbing internal yaitu guru produktif yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran kompetensi, dan pembimbing eksternal yaitu staf dari Dunia Kerja yang sekaligus bertindak selaku instruktur pembimbing yang mengarahkan peserta didik dalam melakukan pekerjaannya.

4) Laporan

Semua kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik selama di Dunia Kerja baik yang ada dalam jurnal ataupun pekerjaan lain yang diberikan oleh instruktor pembimbing eksternal harus dicatat dan didokumentasikan sebagai bahan untuk melakukan evaluasi terhadap program prakerin. Seluruh kegiatan harus diketahui oleh pembimbing dengan cara membubuhkan tanda tangan pada kolom yang tersedia.

7. Evaluasi Program Dan Tindak Lanjut

1). Evaluasi Program

Program prakerin yang sudah dilakukan peserta didik perlu dievaluasi untuk melihat kesesuaian antara program dengan pelaksanaannya. Hal ini dimaksudkan sebagai dasar untuk penyusunan program tindak lanjut yang harus dilakukan baik terhadap pencapaian kompetensi peserta didik maupun terhadap program prakerin.

Evaluasi dilakukan dengan cara:

a) melakukan analisis hasil laporan yang dibuat oleh peserta didik dan hasil penilaian yang yang dilakukan oleh pembimbing dari Dunia Kerja.

b) paparan hasil prakerin setiap peserta didik

2). Tindak Lanjut

Agar sekolah mendapatkan nilai tambah dari pelaksanaan prakerin, maka sekolah dapat mengumpulkan seluruh peserta prakerin sesuai dengan program kehliannya, untuk berbagi pengalaman tentang berbagai hal yang mereka dapatkan di dunia kerja, baik yang berhubungan lansung dengan bidang pekerjaannya maupun yang berkaitan dengan kehidupan sosial di lingkungan tempat pelaksanaan prakerin.

Kegiatan ini bertujuan untuk:

a) Melatih peserta didik memecahkan masalah melalui proses berbagi pengalaman dalam bidang pekerjaan yang sama.

b) Memperkaya pengalaman-pengalaman peserta didik dengan menyerap pengalaman orang lain, khususnya yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

c) Memberikan informasi kepada sekolah mengenai kondisi nyata pelaksanaan prakerin, menjadi bahan pertimbangan untuk peningkatan program prakerin selanjutnya.

Pelaksanaan diskusi:

a) Membagi peserta didik dalam kelompok kecil pada program keahlian yang sama dan memberikan topik diskusi. Misalnya; “Hambatan-hambatan yang dialami selama melaksanakan prakerin”.

b) Menunjuk seorang ketua kelompok untuk mengatur jalannya proses diskusi.

c) Setiap anggota kelompok menyampaikan pengalaman-pengalamannya, yang berkaitan dengan masalah berikut solusinya.

Setelah diskusi:

a) Ketua kelompok membuat kesimpulan tentang jalannya diskusi.

b) Melaporkan hasil diskusi dalam bentuk tertulis sesuai dengan topik yang diberikan.

Dari masukan hasil diskusi peserta didik dan analisis antara program serta penilaian pembimbing Dunia Kerja, disimpulkan menjadi satu rumusan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa peserta didik yang bersangkutan sudah menyelesaikan seluruh aspek kompetensi, sehingga berhak untuk mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi serta perbaikan program prakerin selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Direkturat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, 2009, Bahan bimbingan teknis (Bimtek) Peningkatan Mutu SMK ” Pelaksanaan Prakerin”, Jakarta

http://www.depdiknas.go.id/sikep/Issue/SENTRA1/F40.html, Ahmad Sonhadji K.H., Alternatif Penyempurnaan Pembaharuan Penyelenggaraan Pendidikan Di Sekolah Menengah Kejuruan, diunduh tanggal 5 Oktober 2009

http://galihsasongko.blogspot.com/2009_03_01_archive.html, diunduh tanggal 5 Oktober 2009

http://pkk.upi.edu/invotec_33-39.pdf., Tatang Permana, Pemahaman Konsep PSG Dan Intensitas Bimbingan Terhadap Kemampuan Membimbing Siswa PSG, diunduh tanggal 5 Oktober 2009

Sekilas Lesson Study di Jepang

Makoto Yoshida

Diterjemahkan oleh

Muchlas Yusak

Widyaiswara LPMP Jateng

Dalam paper ini, Makoto Yoshida, seorang pakar lesson study dan praktik pembe-lajaran di Jepang, memberikan gambaran mengenai lesson study di Jepang. Praktik lesson study mempunyai sejarah panjang terkait dengan upaya perbaikan pembelajaran dan belajar siswa di kelas dan telah membantu dalam pengembang-an kurikulum di Jepang. Yoshida memberikan garis besar pelaksanaan lesson study sebagaimana dipraktikkan di Jepang, termasuk perencanaan jadwal lesson study, pemilihan tema penelitian (tujuan Lesson Study), penyiapan research lesson, penu-lisan rencana pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, diskusi tentang research lesson, penulisan laporan Lesson Study, dan penyelenggaraan Lesson Study open house.

Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya Jugyokenkyu, adalah proses pengembangan profesional inti yang dipraktikkan guru-guru di Jepang agar secara berkelanjutan dapat memperbaiki mutu pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran yang mereka fasilitasi. Praktik ini mempunyai sejarah panjang, dan secara signifikan telah membantu memperbaiki pembelajaran (teaching) dan pemelajaran (learning) di kelas maupun dalam pengembangan kurikulum. Banyak guru sekolah dasar dan sekolah menengah di Jepang melaporkan bahwa lesson study merupakan salah satu pendekatan pengembangan profe-sional penting yang telah membantu guru-guru tumbuh berkembang sebagai profesional sepanjang karir mereka (Yoshida 1999).

Guru-guru Jepang menyelenggarakan lesson study dalam berbagai bentuk dan cara. Lesson study dilaksanakan sebagai bagian dari pengembangan profesional berbasis sekolah yang dikenal dengan nama Konaikenshu dan diselenggarakan menurut kelompok sekolah atau kelompok mata pelajaran. Lesson study juga dapat dilaksanakan antar sekolah. Di Jepang kegiatan lesson study dilaksanakan menurut wilayah/daerah, kelompok guru (misalnya, kelompok guru mata pelajaran bahasa Inggris). Lesson study juga menjadi bagian dari pendidikan guru pada tahun pertama mereka bertugas, serta sebagai bagian dari asosiasi maupun institusi pendidikan.

Lesson study terdiri dari tiga bagian utama: (1) identifikasi tema penelitian (research theme) dari lesson study; (2) pelaksanakan sejumlah research lesson yang akan mengeks-plorasi research theme; dan (3) refleksi proses pelaksanaan lesson study, termasuk pem-buatan laporan tertulis.

Identifikasi Research Theme dalam Lesson Study

Proses penentuan research theme (tujuan jangka panjang) untuk lesson study tertentu melibatkan diskusi awal di antara semua guru dalam tim/kelompok. Proses ini biasanya dilakukan di awal proses lesson study. Research theme biasanya disusun dengan terlebih dulu mengidentifikasi kesenjangan antara kenyataan kemampuan belajar dan pemahaman siswa dengan harapan guru terhadap kemampuan siswa, berdasarkan pada data yang ada dan refleksi terhadap praktik pembelajaran di kelas. Selain itu, guru-guru mendiskusikan bagaimana mereka akan dapat menutup kesenjangan kinerja siswa itu. Melalui kegiatan ini, guru-guru di Jepang mengembangkan research theme dan memanfaatkannya sebagai fokus upaya perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan lesson study. Research theme juga digunakan untuk menentukan berhasil tidaknya suatu lesson study.

Sekolah Dasar Tsuta di Hiroshima, Jepang, memilih research theme-nya “Meningkatkan kemampuan berfikir mandiri siswa, menemukan, dan belajar antar sesama siswa saat mereka sedang fokus dalam pemecahan masalah dalam pelajaran matematika.” Untuk menetapkan research theme, sekolah mengadakan pertemuan guru dua kali. Semua kelompok guru dari berbagai kelas berbagi pandangan mereka tentang kondisi kemam-puan belajar siswa, kelemahan siswa dalam belajar dan harapan mereka terhadap siswa. Kemudian guru-guru mengidentifikasi beberapa masalah umum yang dapat mereka sepakati untuk melakukan perbaikan kemampuan belajar siswa.

Kutipan dari disertasi doktoral saya berikut ini lebih jauh menjelaskan bagaimana guru Sekolah Dasar Tsuta menentukan research theme mereka:

“Siswa di sekolah ini ceria, patuh dan sangat antusias belajar. Namun, tampaknya mereka belum menguasai kecakapan-kecakapan berfikir mendalam mengenai satu permasalahan, mendengarkan dan memperhatikan komentar-komentar siswa lain, serta menghargai pendapat siswa lain. Selain itu, ketika anak-anak mencapai kelas lima dan enam, mereka cenderung semakin merasa takut membuat kesalahan di hadapan siswa lain. Sebagai akibat dari rasa takut ini, mereka menjadi kurang bergairah menjadi peserta aktif dalam proses belajar. Untuk mengatasi masalah ini, tim memutuskan memilih tema (tujuan LS), ”Meningkatkan kemampuan siswa dalam berfikir mandiri, menemukan, dan saling belajar dari sesama siswa.” Mereka merasa bahwa dengan memilih topik ini mereka dapat menumbuhkan hasrat yang kuat dari masing-masing siswa untuk belajar (ketika mereka menghadapi mata pelajaran baru) dan mengajar (mereka meningkatkan kemampuan mereka belajar dari) gagasan-gagasan siswa lain dan dari kesalahan mereka sendiri (dan kesalahan orang lain), pada saat yang sama memperkuat rasa keberhasilan di antara semua siswa.” (Yoshida 1999)

 Di Jepang, lesson study telah dilaksanakan pada mata pelajaran matematika dan banyak mata pelajaran lain. Beberapa contoh research theme dari lesson study di beberapa mata pelajaran adalah:

  • memberi fokus pada pembelajaran bahasa Jepang yang akan mematangkan kemampuan siswa berekspresi
  • mengembangkan pembelajaran matematika dengan persiapan matang sehingga dapat memberi kepuasan kepada siswa dan membuatnya menyenangi kegiatan bermatematika sambil meningkatkan kemampuan mereka memandang masa depan secara positif dan berpikir kritis
  • menggunakan kelas bahasa Jepang untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menggeluti topik-topik yang mereka jumpai sehari-hari.
  • membentuk perilaku otonom pada diri siswa serta penuh gairah hidup dengan cara mengembangkan kebugaran dan kesehatan fisik mereka.

Sekolah di Jepang biasanya menangani research theme dan mata pelajaran yang sama, matematika, misalnya, selama tiga sampai empat tahun. Ini terutama dalam setting konaikenshu, yang di dalamnya sekolah mencoba mengembangkan konsistensi dalam pembelajaran di seluruh sekolah untuk memperbaiki proses belajar siswa. Seperti disebutkan terdahulu, research theme berjangka tiga tahun dari SD Tsuta adalah, “Meningkatkan kemampuan berfikir mandiri siswa, menemukan, dan belajar antar sesama siswa saat mereka sedang fokus dalam pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika.” Untuk mencapai tujuan besar ini, guru-guru biasanya menetapkan serangkaian sub-tujuan, satu sub-tujuan untuk setiap tahunnya, sambil menjaga research theme sebagai tujuan utama. Tahun pertama mungkin difokuskan pada peningkatan kecakapan pemahaman siswa dalam permasalahan kosakata. Tahun ke dua bisa fokus pada kecakapan berpresentasi dan menyimak, sedangkan tahun ke tiga untuk pengem-bangan kecakapan berdiskusi. Pendekatan step-by-step dalam pencapaian sub-tujuan ini dimaksudkan agar research theme dapat tercapai secara utuh.

Pelaksanakan Research Lessons

Pada tahap persiapan dan kajian, sekelompok guru secara bersama membuat rencana rinci  research lesson. Kelompok ini biasanya disebut kelompok perencana pembelajaran. Kelompok perencana pembelajaran biasanya terdiri dari empat sampai enam orang. Jika lesson study diselenggarakan dalam setting konaikenshu, guru-guru dibagi ke dalam sub-kelompok dan berfungsi sebagai kelompok perencana pembelajaran.

Untuk menyiapkan suatu research lesson, tim guru mendiskusikan berbagai masalah. Pertama, guru melihat pada pokok bahasan yang mereka selidiki dan diskusikan:

  • apa yang diajarkan dan bagaimana buku teks menyajikan suatu unit pembelajaran
  • bagaimana buku teks atau bahan ajar lainnya menyajikan unit tersebut dengan cara berbeda
  • hubungan unit pelajaran dengan kurikulum
  • pengetahuan yang sebelumnya sudah dipelajari siswa dan pemahaman siswa terhadap topik saat sekarang
  • tujuan dan konsep matematika yang penting pada unit itu
  • bagaimana kesesuaian research lesson dengan unit tersebut
  • tujuan dari research lesson

Kemudian guru-guru membahas ciri-ciri khusus dari research lesson yang sedang mereka kembangkan. Berikut ini daftar topik yang sering mereka bahas:

  • masalah yang akan menjadi fokus pelajaran
  • bagaimana memulai pelajaran (pelibatan dan minat)
  • pertanyaan utama yang akan diberikan untuk memacu berfikir anak
  • antisipasi jawaban siswa dan respon guru
  • perangkat pembelajaran dan manipulatif (alat bantu pembelajaran)
  • handout dan catatan
  • pengaturan penggunaan papan tulis dan pemanfaatan media pembelajaran
  • kemajuan, alur, dan keterpaduan (koherensi) pelajaran
  • bagaimana dan di mana pelajaran diakhiri
  • bagaimana pelajaran dievaluasi

Guru-guru sering membahas masalah-masalah lain bersamaan dengan pembahasan research lesson yang sedang mereka kembangkan. Sebagian topik bahasan mereka adalah:

  • bagaimana menangani perbedaan individual anak
  • bagaimana meningkatkan kecakapan siswa yang beragam dalam memecahkan soal-soal matematika (misalnya, menggambar diagram, tabel, dan grafik, mengu-rutkan dan mengkategorikan)
  • bagaimana meningkatkan kecakapan-kecakapan lain siswa di samping pengeta-huan mereka tentang matematika (misalnya, kecakapan menyimak dan kecakapan presentasi)
  • jenis pengalaman belajar yang membantu siswa terlibat, tertarik dan berkeinginan mendalami pelajarannya lebih lanjut
  • persoalan-persoalan abstrak mengenai pendidikan matematika (misalnya, Apa yang kita ajarkan kepada siswa dengan mengajarkan mata pelajaran matematika?)

Dalam proses perencanaan pembelajaran, guru-guru mengembangkan research lesson tertulis yang rinci. Perencanaan research lesson secara tertulis merupakan komponen sangat penting dari proses lesson study. Proses penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu sendiri akan membantu guru memperdalam pemikiran mereka mengenai masalah-masalah yang terkait. RPP research lesson merupakan rekaman tertulis dari kerja tim/kelompok. Rencana itu juga berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan guru-guru lain di dalam maupun di luar kelompok selama proses lesson study. Akhirnya, tim bisa berbagi RPP research lesson dengan pelaku-pelaku lesson study lain sehingga upaya kelompok dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain dalam upaya memperbaiki pembelajaran (teaching) dan pemelajaran (learning).

Setelah rencana pelaksanaan pembelajaran tersusun, seorang guru dari anggota kelompok melaksanakan pembelajaran research lesson di kelasnya sementara anggota yang lain menjadi pengamat. Guru-guru dari luar kelompok perencana juga diundang agar dapat memberikan saran-saran yang bermanfaat bagi perbaikan pelaksanaan pembelajaran. Setelah pelajaran selesai, lalu diadakan sesi debriefing (refleksi) dan para pengamat merefleksi serta membahas pelaksanaan research lesson. Hal-hal yang mereka pelajari dari diskusi itu menjadi masukan berharga bagi penyempurnaan research lesson yang akan diimplementasikan di kelas lain. Kegiatan ini bersifat optional, namun sangat dianjurkan, terutama bagi pelaku lesson study pemula, karena pelaksanaan pembelajaran serta kegiatan pengamatannya dalam siklus yang pertama dapat membantu guru-guru untuk mengetahui bagaimana perencanaan yang telah mereka buat akan benar-benar bisa berhasil dilaksanakan di kelas sesungguhnya. Menyaksikan pelaksanaan pembelajaran di kelas juga memfasilitasi terjadinya diskusi yang lebih produktif untuk mengembangkan pelajaran yang lebih baik. Setelah dilakukan revisi research lesson, anggota yang lain dari kelompok itu mengajarkannya di kelas lain. Jumlah pengamat biasanya lebih banyak dalam pelaksanaan research lesson yang ke dua ini. Seorang penasehat dari luar biasanya diundang pada kesempatan ini. Setelah pelajaran berakhir, kemudian dilaksanakan sesi debriefing untuk merefleksi dan membahas pelaksanaan research lesson. Akhirnya, RPP research lesson dan pemikiran-pemikiran yang dihasilkan dari diskusi itu disusun menjadi sebuah laporan tertulis.

Agar pelaksanaan debriefing berjalan lancar dan efektif, perlu ada seorang fasilitator dan notulen. Guru yang mengajar, kelompok pembuat RPP research lesson, fasilitator, notulen, dan penasehat dari luar biasanya duduk bersama dan berdiskusi dengan pengamat-pengamat lainnya. Sesi debriefing ini dimulai dengan refleksi terhadap pelaksanaan research lesson oleh guru yang melaksanakan pembelajaran. Guru tersebut berbagi pandangan tentang proses belajar siswa, kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, keputusan-keputusan yang diambil yang menyimpang dari rencana semula, dan isu-isu penting lain yang ingin didiskusikannya bersama para peserta diskusi. Kemudian anggota-anggota tim penyusun RPP yang lain berbagi hasil pengamatan mereka. Dari refleksi guru-guru ini, fasilitator menyeleksi beberapa topik yang akan dijadikan fokus pembahasan, baru kemudian diskusi terbuka bagi semua peserta. Lima sampai sepuluh menit terakhir biasanya diperuntukkan bagi penasehat dari luar (knowledgeable other). Penasehat dari luar akan bertugas merangkum hasil diskusi dan memberikan saran-saran bermanfaat mengenai hal-hal yang dapat dijadikan pelajaran dari pengamatan research lesson itu bagi semua peserta.

Refleksi dan Perekaman

Untuk membuat ringkasan (summary) tentang kegiatan dan pencapaian kelompok lesson study serta membuat rekaman/laporan agar dapat dimanfaatkan di kemudian hari, sekolah mengumpulkan RPP research lesson yang telah dibuat sepanjang tahun, data serta catatan hasil observasi, sampel-sampel pekerjaan siswa, catatan hasil diskusi, dan refleksi mengenai kegiatan lesson study untuk dijadikan sebagai laporan akhir. Rekaman ini menjadi resources yang penting bagi para guru untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka di kemudian hari. Di Jepang sekolah-sekolah membuat laporan lesson study semacam ini yang kemudian disimpan di sekolah, di dewan pendidikan dan pusat-pusat pendidikan. Laporan-laporan ini seringkali dibagi-bagikan ketika ada penyelenggaraan lesson study open house dan dihadiahkan kepada tamu-tamu penting yang berkunjung ke sekolah. Di Jepang, guru-guru menerbitkan banyak buku studi kasus tentang lesson study, yang juga tersedia di toko-toko buku besar.

Jadwal Tahunan Pelaksanaan Lesson Study dalam Konaikenshu

Dalam setting konaikenshu, masing-masing sub-group umumnya melaksanakan dua atau tiga siklus lesson study per tahunnya. Kelompok-kelompok perencana research lesson terlibat dalam siklus-siklus lesson study saat mereka tidak sedang sibuk dengan kegiatan sekolah. Mereka cenderung menghindari pelaksanaan lesson study ketika sekolah menyelenggarakan event-event penting, tes, dsb. Ketika mereka punya cukup waktu, guru-guru biasanya terlibat secara intensif dalam kegiatan lesson study. Pada awal tahun, waktu untuk lesson study biasanya dimanfaatkan untuk merencanakan jadwal lesson study dan penetapan tujuan. Di akhir tahun, waktu dicadangkan untuk membuat ringkasan (summary) kegiatan-kegiatan lesson study. Terdapatnya banyak grup penyusun RPP research lesson yang berbeda memberi kesempatan lebih banyak kepada para guru untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran yang disiapkan dengan matang serta terlibat dalam diskusi-diskusi pelaksanaan pembelajarannya. Guru-guru Jepang menyatakan bahwa setiap tahun mereka biasanya mepunyai sekitar 10 kesempatan melakukan observasi research lesson di maupun di luar sekolahnya dan mendapat satu atau dua kesempatan mengajar di hadapan guru-guru lain sebagai bagian dari lesson study. Selain itu, mereka juga melaporakan bahwa lesson study dalam setting konaikenshu ini membantu guru-guru melaksanakan pembelajaran yang konsisten dan koheren bagi siswa di sekolah (Yoshida 1999).

Lesson Study Open House

Sesekali, sekolah-sekolah di Jepang membuka diri untuk umum guna memperlihatkan prestasi mereka dalam pelaksanaan lesson study. Tujuan lesson study open house adalah untuk berbagi capaian lesson study suatu sekolah dengan sekolah-sekolah lain dan berdiskusi dengan tamu undangan untuk belajar dari mereka. Biasanya, juga dilaksanakan sejumlah pembelajaran research lesson sementara para tamu bertindak sebagai pengamat. Lalu disusul dengan diskusi tentang pelaksanaan research lesson. Sekolah tuan rumah biasanya membuat booklet berisi RPP research lesson disertai brosur yang memberi gambaran tentang keadaan sekolah serta hasil karya dari pelaksanaan lesson study. Guru-guru setempat yang cukup berpengaruh, widyaiswara, dan profesor dari perguruan tinggi sering diundang sebagai penasehat luar untuk menyampaikan perspektif mereka tentang pencapaian pelaksanaan lesson study di sekolah itu.

 

Ciri-ciri Utama Lesson Study

Lesson study memberi kesempatan nyata kepada para guru menyaksikan pembelajaran (teaching) dan pemelajaran (learning) di ruang kelas. Lesson study membimbing guru untuk memfokuskan diskusi-diskusi mereka pada perencanaan, pelaksanaan, observasi/ pengamatan, dan refleksi pada praktik pembelajaran di kelas. Dengan menyaksikan praktik pembelajaran yang sebenarnya di ruang kelas, guru-guru dapat mengembangkan pemahaman atau gambaran yang sama tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran efektif, yang pada gilirannya dapat membantu siswa memahami apa yang sedang mereka pelajari.

Karakteristik unik yang lain dari lesson study adalah bahwa lesson study menjaga agar siswa selalu menjadi jantung kegiatan pengembangan profesi guru. Lesson study memberi kesempatan pada guru untuk dengan cermat meneliti proses belajar serta pemahaman siswa dengan cara mengamati dan mendiskusikan praktik pembelajaran di kelas. Kesempatan ini juga memperkuat peran guru sebagai peneliti di dalam kelas. Guru membuat hipotesis (misalnya, jika kami mengajar dengan cara tertentu, anak-anak akan belajar) dan mengujinya di dalam kelas bersama siswanya. Kemudian guru mengumpul-kan data ketika melakukan pengamatan terhadap siswa selama berlangsungnya pelajaran dan menentukan apakah hipotesis itu terbukti atau tidak di kelas.

Ciri lain dari lesson study adalah bahwa ia merupakan pengembangan profesi yang dimotori guru. Melalui lesson study, guru dapat secara aktif terlibat dalam proses perubahan pembelajaran dan pengembangan kurikulum. Selain itu, kolaborasi dapat membantu mengurangi isolasi di antara sesama guru dan mengembangkan pemahaman bersama tentang bagaimana secara sistematik dan konsisten memperbaiki proses pembelajaran dan proses belajar di sekolah secara keseluruhan. Selain itu, lesson study merupakan bentuk penelitian yang memungkinkan guru-guru mengambil peran sentral sebagai peneliti praktik kelas mereka sendiri dan menjadi pemikir dan peneliti yang otonom tentang pembelajaran (teaching) dan pemelajaran (learning) di ruang kelas sepanjang hidupnya.

 

Referensi

Yoshida, M. (1999). Lesson Study: A Case Study of a Japanese Approach to Improving Instruction Through School-Based Teacher Development. Disertasi Doktoral yang tidak diterbitkan, The University of Chicago.

 

Paper ini aslinya diterbitkan secara online pada Agustus 2003.

 

Tentang Pengarang

Makoto Yoshida, Ph.D.                                                            myoshida@globaledresources.com

Makoto Yoshida adalah salah seorang pendiri dan presiden Global Education Resources. Ia lahir di Hiroshima, Jepang, dan sekarang tinggal di New Jersey. Ia datang ke Amerika Serikat untuk belajar di Lewis and Clark College di Portland, OR, tempat dia menerima gelar B.A. dalam bidang pendidikan dan psikologi. Ia menerima M.A dan Ph.D. dalam bidang pendidikan dari University of Chicago. Penelitian desertasi doktornya difokuskan pada pelaksanaan lesson study di Jepang.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.