MENUJU SEKOLAH BERMUTU

Oleh : Sugihartono

Abstrak : Bahwa memperbaiki kualitas pendidikan harus dimulai dari komitmen untuk berubah oleh segenap personel sekolah untuk memperbaiki kinerjanya dalam rangka memberikan kepuasan kepada pelanggan utama sekolah. Oleh karena itu penerapan MMT di sekolah menjadi suatu keharusan demi kelangsungan hidup sekolah. Untuk dapat mewujudkan pelayanan bermutu diperlukan teamwork yang solid melalui delapan prinsip MMT . Untuk itu dibutuhkan sosok pemimpin yang kuat dan handal sebagai upaya membentuk budaya mutu yang akan mampu mengantarkan oraganisasi melihat masa depan yang baik.

Kata Kunci : Mutu, jaminan mutu, Manajemen Mutu Terpadu, Kepemimpinan Pendidikan Mutu

A. Latar Belakang

Akhir-akhir ini fenomena pendidikan yang memprihatinkan dikarenakan mutu out put yang begitu rendah. Kondisi ini tergambar dari keluhan pengguna tamatan dalam ungkapan tidak siap pakai, kualitas rendah dan sebagainya. Kondisi ini terbukti dari data yang dilaporkan UNDP 2000 yang menggambarkan ada kecenderungan menurun dibanding dengan negara-negara tetangga yang mengalami hal sebaliknya. Laporan tersebut mengemukakan bahwa pada tahun 1998, Indonesia berada pada urutan 102, namun hanya dlam kurun waktu dua tahun posisinya menurun hinga urutan 109. Sedangkan dalam kurun waktu yang sama negara-negara tetangga bergerak maju seperti Singapura meningkat dari urutan 34 ke 24, Australia dari urutan 11 ke urutan 4, Filipina dari urutan 95 ke 64,Cina dari 121 ke 99, dan Vietnam dari urutan 121 ke 108.

Keadaan ini diperparah dengan kenyataan masih begitu rendahnya mutu SDM pendidik di Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan tahun 2004 sebagai berikut :

No Mata Uji Jumlah Soal Rerata Standar Deviasi Rendah Tinggi
1. Tes Umum Guru TK/SD 90 34.26 6.56 5 67
2. Tes Umum Guru Lainnya 90 40.15 7.29 6 67
3. Tes Bakat Skolastik 60 30.20 7.40 3 58
4. Guru Kelas TK 80 41.95 8.62 8 66
5. Guru Kelas SD 100 37.82 8.01 5 77
6. Penjaskes SD 40 21.88 5.56 8 36
7. PPKn 40 23.38 4.82 3 39
8. Sejarah 40 16.69 4.39 3 30
9. Bahasa Indonesia 40 20.56 5.18 2 36
10 Bahasa Inggris 40 23.37 7.13 1 39
11 Penjaskes SMP/SMA/SMK 40 13.90 5.86 2 29
12 Matematika 40 14.34 4.66 2 36
13 Fisika 40 13.24 5.86 1 38
14 Biologi 40 19.00 4.58 5 39
15 Kimia 40 22.33 4.91 8 38
16 Ekonomi 40 12.63 4.14 1 33
17 Sosiologi 40 19.09 4.93 1 30
18 Geografi 40 19.43 4.88 3 34
19 Pendidikan Seni 40 18.44 4.50 2 31
20 PLB 40 18.38 4.43 2 29

Kondisi ini ditanggapi pemerintah, dalam hal ini depdiknas dengan meningkatkan standar kelulusan Ujian Nasional tanpa memperhitungkan kesiapan pelaku pendidikan di lapangan, yang akhirnya justru menimbulkan gejala terbalik yakni dengan banyaknya perilaku menyimpang dari pelaku pendidikan dengan memanipulasi pelaksanaan Ujian Nasional, hanya karena didorong agar siswa asuhannya lulus ujian sehingga dapat menyelamatkan citra sekolah. Akan sangat bijak bila perubahan dilakukan bukan pada ujung kegiatan pendidikan, tetapi diawali dari perencanaan pendidikan yang baik dan proses yang terstandar dan terkontrol, baru kemudian diakhiri dengan evaluasi terstandar dan ini tentunya tidak dapat dilakukan dengan instan, melainkan melalui proses yang panjang.

Untuk itu upaya meningkatkan mutu pendidikan haruslah menjadi agenda pokok seluruh komponen yang terkait, terutama warga sekolah. Guna mendongkrak mutu pendidikan dalam hal ini sekolah, maka diperlukan kajian-kajian dan upaya menerapkan manajemen mutu yang telah terbiasa dilakukan oleh industri untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Untuk keperluan itu makalah ini akan mendiskusikan tentang penerapan manajemen mutu total di sekolah sebagai upaya alternatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

II. IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TOTAL DI SEKOLAH

A. Pengertian Mutu dan Jaminan Mutu

Bagi suatu institusi, mutu merupakan agenda terpenting dan meningkatkan mutu merupakan tugas paling penting. Namun demikian mutu merupakan sebuah konsep yang membingungkan dan sulit untuk diukur. Mutu menurut pandangan seseorang terkadang berbeda dengan pandangan orang lain.

Kita dapat mengetahui dan merasakan mutu ketika kita mengalaminya, tetapi kita akan tetap kesulitan dalam mendiskripsikan dan memberikan penjelasan. Satu hal yang dapat kita yakini bahwa mutu merupakan sesuatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya. Menurut IBM mutu adalah kepuasan pelanggan. (Edward Sallis, 2006:30-31). Berdasarkan ISO 9000 (Dasar-dasar dan Kosa Kata), maka diartikan sebagai :

  1. Memenuhi persyaratan yang disepakati.
  2. Memberikan keyakinan dengan bukti nyata bahwa kebijakan mutu dan sasaran mutu akan dipenuhi.
  3. Mengatur pertemuan antara individu dan antar bagian/departemen dalam organisasi.
  4. Melakukan perencanaan, mengendalikan aktivitas yang bersifat kritis dan memeriksa kebenaran bahwa rencana mutu dan proses berjalan secara efektif.
  5. Praktik manajemen mutu dilakukan secara menyeluruh pada setiap bagian organisasi.
  6. Dilakukan dengan pengukuran kinerja baik yang bersifat financial maupun non finansial.

Ada beberapa hal yang biasa dipertimbangkan oleh pelanggan ketika memilih dan membeli barang yakni

  1. Fungsi Utama ( Main Function) barang tersebut, apakah barang tersebut sesuai dengan fungsi yang diharapkan atau tidak?
  2. Fungsi tambahan (feature)/Daya Guna apakah barang tersebut dapat berfungsi lain selain fungsi utamanya,
  3. Keandalan/Ketahanan, apakah barang yang akan dibelinya itu memiliki keandalan sewaktu digunakan ataukah akan cepat rusak sehingga kehilangan fungsinya.
  4. Kesesuaian, apakah barang yang akan dibelinya itu sesuai dengan keinginannya atau tidak?
  5. Estetika, apakah barang yang akan dibelinya itu memiliki nilai seni yang tinggi sehingga dapat menambah kecantikan atau keindahan penggunanya/pemiliknya
  6. Dan bagaimana kualitas yang dirasakan oleh pelanggan.

Demikian pula ketika seseorang akan membeli jasa ia akan mempertimbangkan hal-hal berikut a) dapat dilihat dan dirasa (Tangible), b) tenggang rasa (Empathy), c) peduli (Responsiveness), d) keajekan (Reliability), e) jaminan (Assurance)

Dalam upaya untuk memberikan layanan dan produk yang bermutu diperlukan jaminan mutu. Menurut SNI -19-8402-1991 yang dimaksud jaminan mutu (Quality Assurance) adalah seluruh perencanaan dan kegiatan sistematik yang diperlukan untuk memberikan suatu keyakinan yang memadai bahwa barang atau jasa memenuhi persyaratan mutu. Sedangkan menurut ISO 9000 – QMS – Dasar-dasar dan Kosakata yang dimaksud jaminan mutu adalah bagian dari manajemen mutu yang diarahkan pada pemenuhan persyaratan mutu.

Dari penjelasan di atas dapat diidentifikasi prinsip-prinsip jaminan mutu sebagai berikut :

  1. Merupakan tanggung jawab seluruh personel organisasi.
  2. Melakukan tindakan yang benar pada tahapan pertama aktivitas.
  3. Berkomunikasi dan bekerja sama dalam setiap aktivitas yang dilakukan.
  4. Adanya suatu sistem yang terdokumentasi.
  5. Adanya tindakan pengendalian pada setiap tahapan aktivitas.

Dengan pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut di atas hampir dapat dipastikan bahwa produk dan layanan jasa yang dihasilkan dari suatu proses kerja suatu organisasi dalam hal ini sekolah akan mampu memberikan jaminan mutu bagi kepuasan para pelanggannya.

B. Manajemen Mutu Total (MMT) di Sekolah

Sekolah sebagai suatu unit pendidikan formal perlu dikelola dengan baik dan tepat sehingga dapat melaksanakan fungsi, misi dan kebijakan yang telah digariskan. Berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, Tilaar (1994) mengemukakan bahwa pendidikan nasional merupakan suatu proses rekayasa sosial untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara efektif dan efisien dengan mengikutsertakan seluruh komponen masyarakat. Fungsi, misi dan kebijakan pendidikan nasional diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu yang sesuai dengan tuntutan penggunanya. Untuk dapat mewujudkan harapan tersebut pengelolaan sistem pendidikan haruslah menyeluruh dan berorientasi pada mutu. Hal ini lebih dikenal dengan manajemen mutu total dan lebih populer dalam dunia industri dengan istilah Total Quality Manajemen (TQM).

Pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan karakteristik MMT di sekolah adalah penedekatan in put, proses , output dan out come

a. Input Sekolah

  1. Memiliki kebijakan mutu, manajemen sekolah beserta segenap warga sekolah menetapkan kebijakan mutu yang akan dijadikan patokan dalam pengembangan sekolah
  2. Sumber daya tersedia dan bermutu, menyediakan sumber daya yang bermutu yang dibutuhkan dalam menunjang pengembangan sekolah
  3. Memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi yang ingin diraih
  4. Fokus pada pelanggan (terutama peserta didik), kebijakan dan penyelenggaraan proses diarahkan pada upaya enciptakan kepuasan pelanggan

b. Proses

  1. Efektifitas pembelajaran, artinya semua guru harus peduli pada upaya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran secara berkelanjutan sebagai wujud komitmennya terhadap kebijakan mutu yang telah ditetapkan bersama.
  2. Kepemimpinan yang kuat dan handal, maksudnya kepemimpinan yang visioner, kreatif, inovatif dan kuat pendirian dalam meningkatkan mutu layanan kepada pelanggan akan sangat menentukan terwujudnya tujuan organisasi sekolah
  3. Pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan yang efektif
  4. Sekolah memiliki budaya mutu, maksudnya pelayanan bermutu kepada pelanggan harus menjadi milik dan budaya segenap personel sekolah
  5. Sekolah memilik teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis sebagai basis upaya mewujudkan kepuasan pelanggan
  6. Sekolah memiliki kemandirian dalam menetapkan, merencanakan dan melaksanakan keinginan-keinginannya dengan dukungan sumber daya yang mandiri pula
  7. Partisipasi warga sekolah dan masyarakat, bahwa upaya mewujudkan layanan bermutu bukan merupakan kerja mandiri menajemen sekolah, tetapi merupakan milik semua warga sekolah dan masyarakat sebagai stakeholder
  8. Sekolah memiliki manajemen yang transparan sebagai jaminan akuntabilitas terhadap warganya dan pengguna layanannya
  9. Sekolah beserta segenap personelnya memiliki kemauan untuk berubah kearah yang lebih baik

10. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus menerus

11. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan yang terus berkembang

12. Sekolah memiliki akuntabilitas yang tinggi terhadap warga maupun stakeholdernya

13. Sekolah memiliki sustainabilitas, untuk menjamin kehidupan sekolah di masa mendatang dan karenanya kreativitas, inovasi sangat diperlukan

14. Budaya kerja yang kondusif dan produktif

c. Output yang diharapkan

Output sekolah adalah hasil kinerja sekolah, yakni berupa prestasi dan kualitas lulusan yang tinggi sebagai gambaran dari kinerja sekolah yang efektif, produktif, efisien, inovatif, dan budaya kerja yang baik. Output dibagi ke dalam dua bagian, yaitu pertama output pencapaian non akademik yang berupa perubahan sikap dan perilaku yang baik (moralitas yang tinggi) dan kedua output pencapaian akademik berupa penguasaan iptek dan skill yang handal.

d. Outcome

Outcome sekolah adalah hasil yang menggambarkan tinggi rendahnya kualitas lulusan sekolah yang memberi dampak multiplier. Tinggi rendahnya kualitas lulusan ini diukur dengan kemampuan bersaing di pasar kerja dan/atau masyarakat. Ketika lulusan dapat langsung bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya, dan perilakunya dapat diterima oleh masyarakat dengan baik, maka dapat dikatakan kualitas outcome yang tinggi.

C. Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu Total di Sekolah

Mutu pendidikan di sekolah seringkali diukur hanya dengan mutu lulusan. Padahal untuk menghasilkan lulusan yang bermutu diperlukan proses yang bermutu pula. Sedangkan proses yang bermutu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor penunjang seperti, sumber daya manusia yang bermutu, sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan bermutu, biaya yang memadai, manajemen yang yang tepat, kepemimpinan yang kuat dan handal serta lingkungan yang mendukung.

Dalam menerapkan MMT di sekolah perlu dipahami dan diupayakan pelaksanaan delapan (8) prinsip MMT sebagai berikut :

  1. Fokus pada pelangggan

Kelangsungan hidup suatu organisasi sangat ditentukan oleh pelanggan. Oleh karena itu organisasi harus upaya-upaya yang dapat meningkatkan rasa puas pelanggan dengan :

  1. Berusaha keras memenuhi persyaratan yang ditetapkan pelanggan.
  2. Mengkomunikasikan keinginan dan harapan pelanggan kepada seluruh personel organisasi.
  3. Melakukan pemantauan dan pengukuran untuk mengetahui kepuasan pelanggan.
  1. Kepemimpinan
    1. Memiliki visi yang jelas untuk masa depan organisasi dan memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.
    2. Keberhasilan implementasi ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, yang diukur dari kemampuan mempengaruhi dan memotivasi personel untuk mau mengikuti SMM yang telah dibangun.
    3. Memberdayakan personel untuk mewujudkan visi secara bersama-sama.
    4. Menciptakan dan memelihara lingkungan internal yang membuat semua personel mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang.
    5. Perbaikan terus menerus
      1. Proses perbaikan dilakukan secara terus menerus dengan cara melakukan deteksi dini terhadap semua proses untuk mencegah terjadinya penyimpangan.
      2. Melakukan koreksi bila terjadi penyimpangan pada semua proses yang dijalankan.
      3. Menggunakan pendekatan PDCA.

Plan : Menetapkan tujuan, proses dan sumber daya ang diperlukan untuk memperoleh hasil sesuai persyaratan pelanggan dan kebijakan organisasi

Do : Melakukan proses

Check : Memantau dan mengukur proses serta produk terhadap tujuan, syarat produk dan kebijakan organisasi

Action : melakukan tindakan perbaikan untuk memperbaiki kinerja proses dan SMM

  1. Keterlibatan Personel
    1. Semua personel organisasi harus memiliki kontribusi dan tanggungjawab terhadap mutu produk dan kepuasan pelanggan
    2. Keterlibatan personel disemua tingkatan sangat penting bagi jalannya SMM
    3. Menjadikan personel memiliki kompetensi dan pemahaman yang sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
    4. Pendekatan Proses
      1. Semua proses mempengaruhi mutu secara langsung.
      2. Pengendalian proses sama dengan pengendalian mutu.
      3. Pengendalian mutu secara efisien dilakukan dengan cara mengendalikan semua sumber daya yang terlibat dalam proses.
      4. Pendekatan Sistem.
        1. Pendekatan sistem merupakan kumpulan dari pendekatan proses.
        2. Semua aktivitas atau proses yang menggunakan sumber daya dikendalikan melalui suatu mekanisme yang sistematis.
        3. Pendekatan dilakukan dengan cara mengidentifikasi, memahami dan mengelola proses-proses yang saling terkait secara efektif dan efisien.
      5. Pengambilan Keputusan berdasarkan Fakta
        1. Semua keputusan, kegiatan dan fungsi dalam manajemen mutu dilakukan atas dasar fakta dan data.
        2. Fakta dan data yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan
      6. Hubungan saling menguntungkan dengan pemasok
        1. Pemasok adalah mitra.
        2. Membangun kerjasama saling menguntungkan dengan melakukan pembinaan secara terus menerus, agar pemasok memahami perannya sebagai bagian integral dari sebuah mekanisme bisnis yang saling menguntungkan (disarikan dari ISO 9001-2000)

D. Kepemimpinan Pendidikan Mutu

Menurut Edward Sallis Kepemimpinan adalah unsur penting dalam TQM. Pemimpin harus memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik.(Sallis, 2006 : 169)

Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Peters dan Austin (dalam Sallis, 2006: 169) dinyatakan bahwa yang menentukan mutu dalam sebuah institusi adalah kepemimpinan. Menurutnya gaya kepemimpinan MBWA atau management by walking about (manajemen dengan melaksanakan) dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu. Keinginan untuk unggul tidak dapat dilakukan dari balik meja, melainkan pada pentingnya kehadiran pemimpin dan pemahaman atau pandangan mereka terhadap karyawan dan proses institusi. Gaya kepemimpinan ini mementingkan pada komunikasi visi dan nilai-nilai institusi kepada pihak-pihak lain, serta berbaur dengan para staf dan pelanggan.

Mereka memandang bahwa pemimpin pendidikan memerlukan perspektif-persepktif berikut ini :

  1. Visi dan simbol-simbol. Kepala sekolah harus mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, para pelajar dan komunitas yang lebih luas.
  2. MBWA adalah gaya kepemimpinan yang dibutuhkan bagi sebuah institusi
  3. Untuk para pelajar, ini menggambarkan bahwa institusi memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya
  4. Otonomi, eksperimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan. Pemimpin pendidikan harus melakukan inovsi di antara para stafnya dan bersiap-siap mengantisiasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut.
  5. Menciptakan rasa kekeluargaan. Pemimpin harus menciptakan rasa kekeluargaan di antara para pelajar, orangtua, guru dan staf institusi.
  6. Ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas dan antusiasme. Sifat-sifat ini merupakan mutu personal esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.

Keberhasilan pelaksanaan MMT di sekolah sangat ditunjang oleh adanya budaya mutu. Peran pemimpin dalam mengembangkan budaya mutu di sekolah mengharuskan ia menjalankan fungsi utamanya sebagai berikut :

  1. memiliki visi mutu terpadu bagi institusi
  2. memiliki komitmen yang jelas terhadap proses peningkatan mutu
  3. mengkomunikasikan pesan mutu
  4. memastikan kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan praktek institusi
  5. mengarahkan perkembangan karyawan
  6. berhati-hati dengan tidak menyelahkan orang lain saat persoalan muncul tanpa bukti-bukti yang nyata. Kebanyakan masalah muncul akibat kebijakan institusi bukan kesalahan staf
  7. memimpin inovasi dalam institusi
  8. mampu memastikan bahwa struktur organisasi secara jelas telah mendefinisikan tanggungjawab dan mampu mempersiapkan delegasi yang tepat
  9. memiliki komitmen untuk menghilangkan rintangan, baik yang bersifat organisasional maupun kultural
  10. membangun tim yang efektif
  11. mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengawasi dan mengevaluasi kesuksesan. (Sallis, 2006: 173)

Untuk dapat menjalankan MMT di sekolah seorang kepala sekolah di samping harus memiliki pandangan dan peran sebagaiman dikemukakan di atas, menurut Sudarwan Danim ia juga harus memiliki kompetensi-kompetensi berikut :

  1. Kompetensi dalam merumuskan visi, misi, tujuan, program dan strategi sekolah
  2. Kompetensi dalam pengelolaan program sekolah secara menyeluruh
  3. Kompetensi dalam pengelolaan program pengajaran
  4. Kompetensi dalam pengelolaan murid
  5. Kompetensi dalam pengelolaan personel sekolah
  6. Kompetensi dalam pengelolaan keuangan sekolah
  7. Kompetrensi dalam pengelolaan sarana dan prasarana
  8. Kompetensi dalam pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat. (Danim, 2006 : 99)

Untuk mencapai kompetensi tersebut, kepala sekolah sebagai ujung tombak pemegang manajemen harus memiliki serangkaian generic skills management yang meliputi perencanaan, komunikasi, pengorganisasian, dan pengontrolan (Turney dalam Danim, 2006 : 100).

Aspek perencanaan mencakup peran :

  1. visioning and formulating mission
  2. making and goal setting
  3. designing programmes
  4. determining and alocating reasource dan
  5. modifying policy plan

Peranan di bidang komunikasi meliputi :

  1. comunication system
  2. consulting with individuals and group
  3. developing skills dan
  4. overcoming problems

Sebagai motivator meliputi tugas :

  1. encouraging involment
  2. enhancing teaching condition
  3. supporting individual and group
  4. fostering climate and morale

Bidang pengorganisasian meliputi tugas :

  1. developing and modifying organizational structures
  2. orienting participation and establishing high espectation
  3. assigning ang delegating authority
  4. coordinating contributions of individuals and groups

Tugas dalam bidang pengontrolan meliputi :

  1. establishing standard
  2. enfluencing performance
  3. monitoring and evaluating
  4. initiating corrective action

Menurut Arcaro (dalam Cep Unang, 2004: 23) suatu sekolah dapat dikatakan telah menerapkan manajemen mutu total apabila sekolah tersebut didukung oleh lima pilar, yaitu (1) berfokus pada pengguna, (2) keterlibatan secara total semua unsur yang ada di sekolah atau semua anggota, (3) melakukan pengukuran, (4) komitmen pada peerubahan, serta (5) penyempurnaan secara terus menerus.

Apabila kelima pilar tersebut telah m,embudaya dalam tradisi sekolah maka dapat dikatakan bahwa sekolah telah melaksanakan manajemen mutu total.

III. PENUTUP

Keberhasilan dalam mengimplementasikan manajemen mutu total di sekolah diperlukan seorang kepala sekolah yang mampu memberdayakan seluruh komponen yang ada di sekolah sehingga terbentuklah budaya mutu dikalangan personil sekolah.

Profil sekolah yang berbasis MMT dicirikan dengan hal-hal berikut, yaitu berfokus pada pelanggan, keterlibatan seluruh komponen yang ada di sekolah, adanya aktivitas pengukuran, memiliki komitmen terhadap perubahan dan usaha untuk memperbaiki secara terus menerus.

Dengan penerapan manajemen mutu total di sekolah diharapkan pengguna lulusan sekolah dapat terpuaskan, dengan demikian secara kualitatif mutu pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah telah meningkat. Untuk itu orientasi mutu dan budaya mutu haruslah ditumbuh kan pada segenap komponen yang ada di sekolah; kalau ingin kualitas pendidikan meningkat, hal ini akan membutuhkan proses yang lama, karenanya tidak akan dapat dilakukan secara instan dengan menetapkan passing grade UN yang tinggi, alih-alih malah dapat menimbulkan prustasi yang berakibat pada perilaku menyimpang.

DAFTAR PUSTAKA

Cep Unang Wardaya (Bulletin PPPG Tertulis), Implementasi Manajemen Mutu Total di Sekolah, vol. 1 No. 2 Nopember 2004

Edward Sallis, (Terj.) Total Quality Management ini Education, 2006, Yogyakarta, IRCiSoD

PPPG Pertanian Cianjur, Materi Sosialisasi ISO 9001-2000

Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah, 2006, Jakarta, Bumi Aksara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: